Manajemen Berbasis Sekolah di SMK

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI SMK

 

logo uny

Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Pendidikan

Pendidikan Teknik Elektro S1, Teknik Elektro FT UNY

Dosen Pengampu Dr. Drs. Giri Wiyono, M.T.

Disusun oleh

Nama NIM
Nika Febriani 15501241004
Suparyatno 15501241030
Mega Cahyaningsih 15501241018

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2016

 

 

Kata Pengantar

 

Segala Puji bagi Allah SWT  yang selalu memberi taufiq, hidayah serta nikmat sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah Manajemen Pendidikan Kejuruan. Walaupun hasilnya tidak sempurna jika dibandingkan dengan karyakarya besar yang lain, namun hasil bukanlah tujuan yang utama, tetapi proses pembelajaran yang pernah dijalani menjadi suatu hal yang utama bagi penulis. Karena disanalah pengalaman dan nilai-nilai luhur itu ada, walaupun tidak dapat diukur dengan angka namun sangat bermakna. Pengalaman yang telah terjadi mudah – mudahan dapat menjadi refleksi, internalisasi, dan proyeksi bagi masa yang akan datang bagi penulis khususnya.

Penulis menyadari sebagai manusia bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Terakhir semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun bagi para pembaca. Amiin.

 

 

 

 

 

 

Yogyakarta, 12 Maret 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

 

 

Halaman Judul……………………………………………………………………………………..i

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………….ii

Daftar Isi…………………………………………….……………………………………………iii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………1

  • Latar Belakang…………………………………………………………………………1
  • Rumusan masalah……………………………………………………………………..2
  • Tujuan…………………………………………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………….3

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………10

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

                                                                                                                            

  • Latar Belakang

 

Indonesia merupakan negara berkembang, negara yang memliki tingkat pertumbuhan tinggi, tingkat pengangguran tinggi, tingkat produktifitas rendah, kualitas hidup rendah, ketergantungan pada sector pertanian,pasar dan informasi tidak sempurna, tinkat ketergantungan pada angkatan kerja tinggi, ketergantungan tinggi pada ekonomi dari luar.

Sebagai negara berkembang, maka banyak upaya yang harus dilakukan untuk menjadikan Indonesia sendiri menjadi negara yang lebih maju. Apalagi di awal 2016 ini Indonesia dan negara ASEAN lainya menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), yaitu system perdagangan bebas atau free trade antara negara-negara anggot ASEAN.Dengan kata lain, para pekerja maupun padagang bebas keluar masuk meakukan operasinya di kawasan ASEAn termasuk Indonesia.

Apabila masyrakat Indonesia belum siap menghadapi hal tersebut, akibatnya negara Indonesia akan semakin terpuruk. Untuk memperbaiki atau memajukan seuatu negara aspek pertama yang harus dibenahi adalah pendidikan. Dengan memperbaiki pendidikan di Indonesia diharapkan mendapatkan Sumber Daya Manusia yang siap bersaing dengan negara-negara ASEAN dalam menhadapi MEA.

Menurut Depdiknas (2001: 1-2), rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain disebabkan oleh sistem pendidikan yang sentralistik (terpusat) dan partisipasi masyarakat khususnya orang tua dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah selama ini sangat minim. Kebijakan.

Sekolah Kejuruan merupakan sekoalah menghasilkan lulusan yang memliki kemampauan sesuai dengan kebutuha kompetensi dunia kerja.Selain memiliki ketrampila dan pengetahuan dasar teknis,hal yang tak kalah penting dan dibutuhkan tenaga kerja Indonesia adalah manajemen ketrampilan sosial individu.Sekolah kejuruan dalam hal ini SMK diharapkan dapat menghasilakan Sumber Daya Manusia yang berkompetendengan memeliki kemampuan (skill, attitude dan knowledge) yang sesuai dengan kebutuhan kompetensi dunia kerja serta mampu sebagai wahana dalam upaya memfasilitasi berkembangnya ketrampilan Individu atau kelompokuntuk adapat berperan sebagai pencipta atau pembuka lapangan kerja, atau individu atau kelompok sebagai pencari kerja yang kompetitif dan individu atau kelompom yang memiliki kemempuan daya edurasi yamg tinggi dalam kancah global.

 

 

 

 

 

 

 

  • Rumusan Masalah

 

  1. Apa yang dimaksud dengan menejemen berbasis sekolah di SMK?
  2. Apa tujuan dari manajemen berbasis sekolah di SMK?
  3. Bagaimanakah penerapan manajemen berbasis sekolah di SMK?
  4. Bagaimana contoh penerapan manajemen berbasis sekolah di SMK saat ini?
  5. Apa saja dampak positif penerapan manajemen berbasis sekolah di SMK?
  6. Apa saja kendala yang dialami dari penerapan manajemen berbasis sekolah di SMK?

 

  • Tujuan

 

  1. Mengetahui maksud dari manajemen bebasis sekolah di SMK
  2. Mengetahui tujuan dari manajemen berbasis sekolah di SMK
  3. Mengetahui bagaimana penerapan manajemen berbasis sekolah di SMK
  4. Mengetahui contoh penerapan manajemen berbasis sekolah di SMK saat ini
  5. Mengetahui dampak positif penerapan manajemen berbasis sekolah di SMK
  6. Megetahui kendala yang dialami dari penerapan manajemen berbasis sekolah di SMK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah di SMK

Manajemen adalah seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi Mary Parker Follet ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. Sedangkan sekolah adalah tempat didikan bagi anak anak. tujuan dari sekolah adalah mengajar tentang mengajarkan anak untuk menjadi anak yang mampu memajukan bangsa . Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa /murid di bawah pengawasan guru.

Adanya manajemen berbasis sekolah di SMK agar sekolah tersebut leluasa memgelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebuuhan. Pada system manajemen tersebut sekolah dituntut secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas ,menegndalikan dan mempertanggung jawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Dari manajemen berbasis sekolah memberi kesempata agar sekolah dapat menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi siswa. Sekolah yang dimaksud disisni yaitu Sekoah Menengah Kejuruan.

 

 2.2 Tujuan  Manajemen Berbasis Sekolah di SMK

Tujuan Manajemen pendidikan yaitu mengacu pada tujuan pendidikan itu sendiri. Dalam hal ini membahas tentang pendidikan kejuruan. Sehingga juga harus mengerti tujuan dari pendidikan kejuruan. Pendidikan Kejuruan memiliki multi-fungsi yang kalau dilaksanakan dengan baik akan berkontribusi besar terhadap pencapaian tujuan pembangunan nasional.Fungsi-fungsi yang dimaksud antara lain meliputi : (Wardiman;1998: 35)

  1. Sosialisasi, yaitu transmisi nilai-nilai yang berlaku serta norma-norma sebagai konkritisasi dari nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai yang dimaksud adalah teori ekonomi, solidaritas, religi, seni, dll.
  2. Kontrol sosial; yaitu kontrol perilaku agar sesuai dengan nilai sosial berserta norma-normanya, misalnya kedisiplinan, kejujuran, dll.
  3. Seleksi dan Alokasi; yaitu mempersiapkan ,  memilih, dan menempatkan calon tenaga kerja sesuai dengan tanda-tanda pasar kerja, yang berarti pendidikan kejuruan harus berdasarkan ”demand-driven”.
  4. Asimilasi dan Konservasi budaya, yaitu absorbsi terhadap kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa.
  5. Mempromosikan perubahan demi perbaikan; yaitu pendidikan tidak sekedar berfungsi mengajarkan apa yang ada, tetapi harus berfungsi sebagai ”pendorong perubahan”.

Dapat disimpulkan bahwa pendidikan kejuruan berfungsi  secara ganda yaitu sebagai ”akulturasi” (penyesuaian diri) dan ”enkulturasi” (pembawa perubahan). Karena itu, pendidikan kejuruan tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga harus antisipatif.

Tujuan Pendidikan Kejuruan

Banyak rumusan Pendidikan Kejuruan yang dikemukakan oleh berbagai pihak,  diantaranya adalah sebagai berikut : Rupert Evans (1978) merumuskan bahwa Pendidikan Kejuruan bertujuan untuk :

  1. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja
  2. Meningkatkan pilihan pendidikan bagi setiap individu
  3. Mendorong motivasi untuk belajar terus.

 

Dari tujuan di atas dapat diperoleh tujuan manajemen pendidikan kejuruan sebagai berikut :

  1. Produktivitas

Perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh (output) dengan jumlah sumber yang dipergunakan (input). Produktivitas dapat dinyatakan secara  kuantitas maupun kualitas. Kuantitas output berupa jumlah tamatan dan kuantitas input berupa jumlah tenaga kerja dan sumberdaya selebihnya (uang, peralatan, perlengkapan, bahan, dsb).

Sedangkan produktivitas dalam ukuran kualitas digambarkan dengan ketepatan menggunakan metode dengan menggunakan alat yang tersedia sehingga beban kerja dapat terselesaikan tepat waktu dan mendapatkan pujian atas hasil karyanya.

 

  1. Kualitas

Menunujukkan ukuran penilaian yang diberikan kepada barang atau jasa yang harus menyamai atau melebihi kebutuhan atau harapan pelanggannya.  Jadi hasil yang diperoleh harus memiliki mutu yang sesuai atau bahkan melebihi dari yang diharapkan sehingga pelanggan mendapatkan kepuasan..

 

 

  1. Efektivitas

Merupakan ukuran keberhasilan tujuan organisasi. Efektifitas intitusi pendidikan terdiri dari dimensi manajemen dan kepemimpinan sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan personil lainnya. Efektifitas dapat juga ditelaah dari :

  1. Masukkan yang merata
  2. Keluaran yang banyak dan bermutu tinggi
  3. Ilmu dan keluaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun
  4. Pendapatan  tamatan yang memadai

 

  1. Efisiensi

Perbandingan antara rencana dengan tujuan yang dicapai. Sesuatu bisa dikatakan efisien jika tujuan dapat dicapai secara optimal dengan sumber daya yang minimal. Efisiensi pendidikan adalah bagaimana tujuan itu dicapai dengan memiliki tingkat efisiensi waktu, biaya, tenaga, dan sarana.

 

2.3 Penerapan Manajemen berbasis Sekolah di SMK

 

Aplikasi Penerapan Menejemen Berbasis Kompetensi di SMK.Komponen yang didesentralisasikan Menurut  dediknas terdapat sembilan sumber daya yang harus didesentralisasikan yang pada hakikatnya merupakan inti dan isi dari MBS. Kesembilannya merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan yang terdiri dari :

 

  1. Perencanaan dan evaluasi program sekolah. Sekolah diberi kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya, pada fungsi ini telah disusun rencana strategis (renstra) yang memuat rencana pengembangan sekolah dalam jangka waktu lima tahun kedepan dan renop (rencana operasional) yeng merupakan rencana tahunan. Dan setiap akhir bulan atau semester termasuk akhir tahun diadakan evaluasi pelaksanaan program.

 

  1. Pengelolaan kurikulum. Sekolah dapat mengembangkan, namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh Pemerintah Pusat. Pada fungsi ini telah dikembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar melalui penjabaran kedalam indikator-indikator setiap mata pelajaran dan juga pengembangan kurikulum muatan lokal.

 

  1. Pengelolaan proses belajar mengajar. Sekolah diberi kebebasan untuk memilih strategi, metode dan teknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik siswa, karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. Pada fungsi ini, guru telah diberi kebebasan memilih metode-metode yang tepat dalam proses pembelajaran yang intinya adalah peruses pembelajaran konstruktif.

 

  1. Pengelolaan ketenagaan. Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan perencanaan, rekrutmen, pengembangan, penghargaan dan sangsi, hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. Fungsi ini telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan guru tidak tetap dan pegawai tidak tetap berdasar kepada kompetensi dasar bagi guru dan pegawai administrasi, pelatihan yang terus menerus.

 

  1. Pengelolaan peralatan dan perlengkapan. Pengelolaan fasilitas seharusnya dilakukan oleh sekolah mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan hingga pengembangannya. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas baik kecukupan, kesesuaian dan kemutakhirannya terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar. Fungsi ini telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan barang yang didahului oleh analisis skala prioritas, perbaikan/penggantian sarana dan prasarana belajar termasuk pengembangannya dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan.

 

  1. Pengelolaan keuangan. Pengelolaan keuangan, terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah. Fungsi ini ditandai dengan penggunaan keuangan yang ada di sekolah melalui pendistribusian pada RAPBS yang disusun oleh Kepala Sekolah bersama Komite Sekolah serta guru senior.
  2. Pelayanan siswa. Fungsi ini dapat dilaksanakan dalam bentuk pelayanan siswa mulai dari penerimaan siswa baru, pengembangan, pembinaan, pembimbingan, penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga pengurusan alumni.

 

  1. Hubungan sekolah dan masyarakat. Fungsi ini dapat dilaksanakan melalui hubungan sekolah dan msyarakat untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan finansial.

 

  1. Pengelolaan iklim sekolah. Fungsi ini dapat dilaksanakan dalam bentuk menciptakan Iklim sekolah yang kondusif-akademik yang merupakan merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan sekolah dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa.

 

2.4. Contoh Penerapan Manajemen berbasis Sekolah di SMK

 

Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan upaya pelaksanaan otonomi sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.Tujuannya adalah untuk mengetahui Program Manajemen Berbasis Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan.Subjek dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah dan Guru, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa :

 

  1. Program Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah dalam meingkatkan mutu pendidika meliputi beberapa bidang , diantaraya adalah bidang pembelajaran dan kurikulum , bidang kesiswaan, bidang ketenagaan, bidang sarana da prasarana, bidang pembiayaaa,setrta bidag pera serta masyarakat dalam peingkata mutu pendidikan.

 

  1. Penerapan bidang pembelajaran dan kurikulum adalah dengan cara memyusun Kurikulum Tingkat Satuan pedidikan , membuat silabus , Program Pembelajaran(RPP),dibidang kesiswaan meliputi peerimaan siswa baru,kegiatan ekstrakuikuler,bimbingan belajar,dibidang ketenagakerjaan dengan membuat usulan penambahan guru mata pelajaran,memberikan kesempata kepada guru untuk melautkan pedidikan,mengusulkan sertifikasi guru,dibidang sarana dan prasarana dengan mengusulkan membuat laboratorium computer dengan jaarigan internet dan melakukan perawatan terhadap saraa da prasarana, di bidang pembiayaan, pegeluaran sesuai dega aggaran yang teflah ditetapkan dalam kegiatan yang akan dilaksanakan, dibidang peran serta masyarakat, sekolah melibatkan komite sekolah dalam membuat program- program sekolah.

 

  1. Evaluasi penerapan Maajemen Berbasis Sekolah dengan melakukan pemantauan atau pengawasanterhadap bidang- bidang yang ada serta melakukan revisi atau perbaikan terhadap kekeliruan dalam pelaksaannya.

 

  1. Faktor pendukung penerapan Manajemen berbasis Sekolah adalah gaya kepemimpina kepala sekolah yang demokratis, kualifikasi guru yang semuanya S1,saraa da prasarana . yang memadai.

 

 

2.5. Dampak Positif Penerapan Manjemen Pedidikan Berbasis Sekolah di SMK
MBS dipandang sebagai alternatif sistem pendidikan dan pengoperasian sekolah yang dinilai merupakan wewenang kantor pusat dan daerah. Kebijakan MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan daerah ke tingkat sekolah. Dengan demikian, MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri.

MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka. Dalam pendekatan ini, tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran, kepegawaian, dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah, apalagi pusat. Melalui keterlibatan guru, orang tua, dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu, MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid.

Para pendukung MBS berpendapat bahwa prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat pusat atau daerah. Para kepala sekolah cenderung lebih peka dan sangat mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperanserta merencanakannya.

Kelompok pendukung MBS menyatakan, bahwa pendekatan MBS memiliki lebih banyak maslahatnya bila dibandingkan dengan pengambilan keputusan yang terpusat. Maslahat itu antara lain menciptakan sumber kepemimpinan baru, lebih demokratis dan terbuka, serta menciptakan keseimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran. Pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan dapat meningkatkan motivasi dan komunikasi bagi kinerja guru, dan pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar murid.

Keleluasaan mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi, mendorong profesionalisme kepala sekolah, dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah.Melalui penerapan MBS, guru selalu didorong untuk berinovasi,melalui penerapan MBS, rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik.Melalui penerapan MBS,  sumber dana sekolah yang halal mungkin dapat disisihkan untuk membantu kesejahteraan guru. Dengan demikian, sekolah dapat mengkondisikan agar guru dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.6.  Kendala dan cara menanggulangi dalam Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di SMK

 

Kendala-Kendala yang dihadapi dalam implementasi MBS dan Upaya-Upaya Mengatasinya.

adalah:

 

  1. Dana.
  2. Tenaga kependidikan kurang.
  3. Kadang-kadang terjadi perbedaan pen-dapat di antara guru meskipun tidak sampai berpengaruh kepada siswa.
  4. Sarana dan prasarana khususnya peralatan sudah mulai usang.
  5. Ada beberapa guru yang sudah sepuh umurnya tidak mau tahu dengan kemajuan teknologi.

 

 

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang menghambat pelaksanaan MBS tersebut, yaitu:

  1. Untuk mengatasi masalah dana adalah dengan menggunakan dana seefektif mungkin dengan skala prioritas.
  2. Mengangkat tenaga honorer yang di-bayar oleh komite sekolah.
  3. Kepala sekolah memanggil mereka yang berselisih, duduk bersama dan diajak bicara baik-baik.
  4. Peralatan yang sudah tidak bisa di-gunakan segera diganti yang baru.
  5. Memberi pelatihan-pelatihan untuk mengoperasikan komputer agar ba-pak-ibu guru tersebut dapat membuat power poin sendiri dan dapat meman-faatkan IT.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

 

 

  • Kesimpulan

Bahwa Manajemen Berbasis Sekolah  merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dengan maksud agar sekolah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan.. Penerapkan fungsi-fungsi Manaemen Berbasis Sekolah dapat dilaksanakan dalam bentuk Perencanaan dan evaluasi program sekolah, Pengelolaan kurikulum, Pengelolaan proses belajar mengajar, Pengelolaan ketenagaan, Pengelolaan peralatan dan perlengkapa, Pengelolaan keuanga, Pelayanan siswa, Hubungan sekolah dan masyarakat, serta Pengelolaan iklim sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

http://theboxofgory.blogspot.co.id/2011/11/manajemen-pendidikan-kejuruan.html

http://ekonoferiyantootomotif.blogspot.co.id/2010/06/tugas-menejemen-pendidikan-skripsi.html

Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. 2011. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Depdikbud 1993.Himpunan Keputusan Menteri Pedidika dan Kebudayaan Republic Indonesia.Jakarta:sekje biro keuangan.

Mulyasa,E.2003.Menejemen Berbasis Sekolah Bandung Rosda,

Andy Fraizer.2000. A Roadmap for Quality Transformation in Education.Florida:St.Luice Press

Ary H.Gunawan. 1982.Dasar- Dasar Sarana Pendidikan.Yogyakarta:Al Hikmah

Depdikbud.1998.Pengelolaan Laboratorium Sekolah dan Manual Alat Ilmu Pengetahuan alam. Jakarta:Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Depdiknas.2002. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional.

Mulyasa E. 2002.Manajemen Berbasis Sekolah.Bandung :Remaja Rasdakarya

Soebagio Atmodiwirjo.2000.Manajemen Pendidikan Indonesia.Jakarta:Ardadiya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

81 + = 82