Ijtihad

Ijtihad (Arab: اجتهاد) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh  yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama islam. Yang telah mampu berijtihad atau disebut Mujtahid. Tujuan ijtihad Tujuan Ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah mereupakan suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.

 

Berikut jenis-jenis Ijtihad :

  1. Ij’ma

Ij’ma merupakan kesepakata para ulama dalam menetapkan suatu hokum-hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi. Ijma sendiri memeiliki bebrapa unsur anatar lain yaitu adanya kesepakatan seluruh mujtahid dari kalangan umat islam (ulama), suatu kesepakatan yang dilakukan haruslah dinyatakan secara jelas, yang melakukan kesepakatan tersebut adalah mujtahid, kesepakat tersebut terjadi setelah wafat Rasulullah dan yang disepakati itu adalah hukum syara’ mengenai suatu masalah/peristiwa hukum tertentu.

Ij’ma dibagi menjadi dua yaitu ijma’ qauli dan ijma’ sukuti. Ijma’ Qauli yaitu ijma dimana para ulama mengeluarkan pendapatnya secara lisan maupun tulisan sebagai tanda cara untuk menyatakan persetukuan. Sedangkan Ijma’ Sukuti yaitu ijma yang dimana para ulama mengungkapkan pendapatnya dengan diam, diam dianggap bahwa mereka setuju.

 

  1. Qiyas

Qiyas berasal dari bahasa arab yang arttinya hal mengukur, membandingkan, aturan. Disebutkan juga qiyas yaitu mengukur sesuatu atsa sesuatu yang lain dan kemudian menyamakan antara keduanya. Definisi qiyas menurut usul fiqih adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nashnya hukumnya karena adanya persamaan illat hukum.

Para ulama pun sepakat jika qiyas sebagai dalil dalam urutan keempat setelah Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ . Berikut dalail tentang qiyas :

qiyas

Artinya : “Hai orang-orang ynag beriman, taatilah Allahdan taatilah RasulNya dan ulil amri diantara kamu. Jika kamu beraliana pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah). Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baikakibatnya (An-Nisa:59)

  1. Istihsan

Menurut bahasa Istihsan yaitu menganggap baik ataumencari yang baik. Menurut ulama usul fiqih yaitu meninggalkan hukum yang telah ditetapkan kepada hukum yang lainnya pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasarkan dalil syara’ .

Tokoh yang menentang adanya istihsan adalah Imam Syafi’I dan mazhabnya. Mereka berpendapat bahwa menetapkan hukum istihsan adalah hanya berdasarkan keinginan hawa nafsu karena yang berhak menetukan hukum syara’ hanyalah Allah SWT. Namun berbeda dengan Imam Hanafi , menurut madzhab Imam Hanafi istihsan itu semacam qiyas yang dilakukan karena ada suatu kepentingan bukan berdasarkan hawa nafsu belaka.

 

  1. Al-mashlahat al-mursalah

Al-mashlahat al-mursalah secara harfiah yaitu sesuatuyng membawa kemasahatan atau kebaikan bagi orang banyak. Sedangkan  ahli hukum Islam, Al-mashlahat al-mursalah adalah sesuatu yang didalamnya mengandung kebaikan bagi masyarakat, sehingga walaupun pada masa lalu hal tersebut tidak diberlakukan, namun dalam keadaan masyarakat yang sudah makin berkembang, keadaan tersebut dianggap perlu dilakukan. Diantara banyak ulama yang menggunakan Al-mashalat al-mursalah yaitu Imam Malik dengan alasan bahwa Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW adalah untuk kemaslahatan manusia. Sebagaimana Firman Allah pada surat Al- Anbiya ayat 107:

al maslahat

Artinya : “ Tidaklah aku semata-mata mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk kebaikan seluruh                    alam”

 

  1. Sududz Dzariah

Dalam Buku Din Al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum tertulis bahwa.Sududz Dzariah adalah menutup jalan yang meuju kepada perbuatan yang terlarang ( yang membawa kerusakan ) . Cintohnya zina itu haram, dan berdua-dua dengan lawan jenis di tempat sepi dapat menimbulkan zina. Jadi berdua-duaan dengan lawan jenis di tempat yang sepi itu dapat dikatakan haram.

 

  1. Istishab

Istishab didefinisikan oleh ahli ushul sebagai menetapkan hukum atas sesuatu menurut keadaan yang ada sebelumnya hingga ada dalil yang merubah keadaan tersebut, atau menjadikan hukum .yang ada dimasa lalu tetap berlaku hingga sekarang smapai ada dalil yang merubahnya. ( Khallaf, 1978:91) Contohnya yaitu ketika kita Sholat, kita lupa sudah rakaat keberapa dan kita harus menetapkan krakaat berapa kita sekarang dan tanpa ragu-ragu setelah itu melakukan sujud sahwi.

  1. Urf

Urf yaitu ssesuatu yang tidak asing lagi bagi suatu masyarakat kerena telah menjadi kebiaasaan dan menyatu  dengan kehidypan mereka baik berupa perbuatan ataupun perkataan (Prof. Dr Satria Effendi, M.zein,MA). Urf dapat disebut juga sebagai adat istiadat atau kebiasaan. Daru segi penilaian urf dibedakan menjadi dua yaitu  urf shahih ataun kebiasaan yang benar dan tidak bertentangan dengan ketentuan agama dan yang kedua yaitu urf fasid atau kebiasaan yang bertentangan denan agama yang bisa dibilang kurang baik. Contoh dari Urf  Shahih yaitu kebiasaan membaca Al-Qur’an sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dan contoh Urf Fasid yaitu seperti berjudi, minum-minuman keras, korupsi dll.

 

  1. Madzab Shahabi

Madzab Shahabi terkadang dinamakan dengan qoul shahabi dan fatwa shahabi. Secara sederhana madzhab shahabi berarti fatwa sahabat secara perorangan (Amir Syarifudin,1999, II: 379) . Bisa juga dikatakan dengan pendapat para sahabat/orang terdekat Rasul.

 

  1. Syar’u Man Qoblana

Syar’u Man Qoblana (Indonesia: Syariaat sebelum kita ) berarti hukum-hukum yang telah disyaruaatkan untuk Umat sebelum islam yang dibawa oleh para Nabi dan rasul terdahulu dan menjadi beban hukumuntuk diikuti oleh umat sebelum adanya syariat Nabi Muhammad (Amir Syarifudin, 1999, II : 391)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 12 =