Fundamentalisme Dalam Islam

Fundamentalisme dalam Islam

 

Dalam kamus kecil Petite Larouse Encyclopfdique tahun 1966 menjelaskan bahwa Fundamentalisme merupakan sikap orang-orang yang menolak penyesuaian kepercayaan dengan kondisi-kondisi modern.

Sementara itu kamus saku Grand Larouse Encyclopfdique edisi 1979 hanya mengaitkan dengan agama Khatolik saja, yakni “kondisi-kondisi pemikiran dikalangan sebagian penganut khatolik yang menolak penyesuaian dengan kondisi kehidupan modern” dan kemudian pada tahun 1984 terbit kamus Grand Larouse Encyclopfdique besar dalam 12 jilid yang memberikan definisi lebih konferhensif yaitu “inti gerakan keagamaan (fundamentalisme) adalah sikap statis yang menetang segala bentuk bekkenmbangan dan perubahan”.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutka kata “fundamental” sebagai sifat yang memberikan pengartian “bersifat dasar(pokok): mendasar”, diambil dari kata fundament yang bearti “dasar, asas , fondasi” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990:245). Dengan demikian fundamentalisme dapat diartikan daengan paham yang berusaha untuk memperjuangkan atau menerapkan apa yang di anggap mendasar.

Istilah fundamentalisme awalnya digunakan hanya untuk menyebut penganut khatolik yang menolak modernitas dan memepertahankan ajaran ortodoks agamanya. Sejalan dengan waktu istilah fundamentalisme menimbulkan citra tertentuu seperti ekstrimisme, fanatisme bahkan terorisme. Namun menurut M Said al-Asymawi , fundamentalisme itu tidak selalu berkonotasi negative , sejauh gerakan itu bersifat rasional dan spiritual dalam memahami ajaran islam berdsarkan semangat dan konteksnya.

Hassan Hanafi professor filsafat Universitas Cairo mengatakan bahwa term “muslim fundamentalis” merupakan istilah untuk menunjukan gerakan kebangkitan islam, revivalisme islam, dan gerakan/kelompok islam kontemporer, yang sering digunakan oleh peneliti Barat dan oleh banyak pemikir .

Dalam semua ulasan tersebut, fundamentalisme islam dapat diartika sebagai gerakan-gerakan Islam hyang secara politik menjadikan Islam sebagai ideology dan secara budaya menjadikan Barat sebaagai The Others.

 

 

Lahirnya Gerakan Fundamentalisme Islam

 

Seacara garis besar lahirnya fundamentalisme islam dilator belakangi oleh situasi politik di tingkat domestic maupun internasional.Hal tersebut dapat dibuktikan sejak masa akhir khalifah Ali Bin Abi thalib, dimana situasi dan kondisi tidak kondusif.

Begitu juga pada masa akir pemerintahan presiden Soeharto, Indonesia mengalami krisis yang cukup besar.Sehingga menimbulkan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Kemudian masyarakat membentuk kubu-kubu sendiri dan berteriak mengkampanyekan penerapan syariat sebagai solusi krisis.

 

Karakteristik Islam Fundamentalis

 

Karakteristik islam fundamentalis adalah skriptualisme yaitu keyakinan harfiah terhadap kitab suci yang merupakan firman Tuhan dan dianggap tanpa kesalahan.Dengan keyakinan itu dikembangkanlah gagasan dasar yang mengungkapkan bahwa suatu agama tertentu diegang secara kokoh dalam bentuk literal dan bulat tabpa kompromi , pelunakan , reinterpresatsi dan pengurangan (Azyumardi Azra, 1993:18-19).

Karakteristik gearakan fundamentalisme islam menurut Abdurahman Kasdi adalah sebagai berikut:

  • Mereka cenderung melakukan interprestasi literal terhadap teks-teks agama , menolak pemahaman kontekstual atas teks agama , karena pemahaman itu dianggap akan mereduksi kesucian agama.
  • Mereka menolak plularisme dan realatifime. Bagi kaum fundamentalis pluralism merupakan produk yang keliru terhadap pemahaman teks suci agama.
  • Mereka memonopoli kebenaran atas tafsir agama. Kaum fundamentalis menganggap dirinya pling benar dan memandang orang lain yang tidak sepaham dengan mereka itu sesat.
  • Gerakan fundamentalis hampir selalu dapat dihubungkan dengan fanatisme, eksklusifme, intoleran, radikaslis dan militanis.

 

Sebagaima kita tahu bahwa Islam merupakan agama yang melarang besar adanya kekrasan atau kerusuhan yang tidak berarti. Islam tidak meyukai kekerasan dalam bentuk apapun juga mengatas nama siapapun termasuk atas nama agama ataupun Tuhan.

Dalam sumber-sumber yang berasal dari Al-Qur’an maupun hadits banyak ayat yang meyebutkan larangan melakukan kekerasan. Contohnya sebagai berikut :almaidah

 

Artinya : “Oleh karena itu kami tetapkan suatu hokum bagi Bani Israil, bahwa : Barang siapa yang emembunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau karena membuat kerusakan dimuka bumi , maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rosul-rosul kami (dengan memebawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka setelah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (Q.S. Al-Maidah:32)

 

Namun di dalam Al-Qur’an juaga terdapat ayat yang menganjurkan atau memperbolehkan kita untuk melaukan kekerasan atau untuk meminimalisi alasan untuk memlakukan kekerasan berikut contohnya

ke 2

Artinya : “ Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian , dan mereka tidak mengharamkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama yang benar-benar (agama Allah) , (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka , sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 3 =